Tampilkan postingan dengan label Kamut Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kamut Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2018

Dear Hujan, OPPA S-A


Apa dia tidak tau apa, 
aku memikirkannya beberapa hari ini
Aku bahkan tidak bisa tidur dengan tenang karena memikirkannya
Aku terbangun ditengah malam dan masih saja memikirkannya
Hingga aku merasa pusing dan kesal sendiri
Dan .....
Seberapa banyak aku pusing karenanya
Seberapa banyak aku kesal padanya
TETAP saja aku memikirkannya
TETAP saja aku merindukannya









Dear Hujan "Are You The Same Person That I Ever Meet Before ?!"


Tadinya, aku pikir kk akan menghubungiku setelah era jokowi berakhir
Makanya, kemaren, ketika kk menelpon, aku ampe bingung + terharu + tersanjung, maksudnya, kok biso, seorang SEPTA ADRIANTO yang waktunya sangat berharga tiba-tiba menelpon aku yang BUKAN SIAPA-SIAPA, aku jadi bertanya-tanya, KENAPA? Apa ada masalah dengan pekerjaannya?

Kk tau
Aku kehilangan kata-kata untuk mengggambarkan betapa hebatnya kk
Saking sibuknyo
Saking capeknyo
Saking lelahnyo

Idak sms aku
Idak telpon aku
Idak inbok aku
Aku inbok jam berape kk bace jam berape

Sampai-sampai kk idak punyo lagi waktu buat balas sms aku
Sampai-sampai kk idak punyo lagi waktu buat balas inbok aku
Sampai-sampai aku berpikir kk sedang menyingkirkan aku 

Tapi.....tenang saja
Aku mulai TERBIASA
Aku SUKA gaya kk
Suka sekali
Sangat sangat suka
Lanjutkan
Teruskan
Semangat





Selasa, 06 Maret 2018

Dear Hujan, kau mengikutiku kemana pun aku seperti bayangan setiap hari



Aku berlebihan sekali


Kenapa aku jadi seperti ini


Kenapa aku menjadi seperti CEO Kim Joo Won & Senior Gil Ra Im


Secret Garden???


Kenapa aku menjadi seperti CEO Kim Joo Won yang melihat Ra Im dimana-mana bahkan ketika menutup matapun Ra Im masih ada, ketika berjalan senior ra im juga ada, poko’nya semua aktivitasnya terganggu karena kehadiran senior Gil Ra Im.


Bukan kah sebelumnya akulah yang memintanya untuk tidak terlalu sering menelponku, kenapa sekarang aku malah ....... ya allah aku sungguh tidak mengerti


Bukan kah sebelumnya akulah yang memintanya untuk kalo bisa sebulan sekali saja menelponku, kenapa sekarang aku malah ....... ya allah sekali lagi aku sungguh tidak mengerti


Bukan kah sebelumnya akulah yang memintanya untuk tidak terlalu sering menghubungiku, mengirim pesan padaku, dll tapi kenapa sekarang aku malah ........ ya allah, aku, tolonglah aku


Apa aku harus seperti CEO Kim yang tiap kali mengingat senior Ra Im dia membacakan mantranya 


[ Kim Su Han Mu keobugi wa durumi samcheongabja Dong Bang Sak Chichikapo Sarisarisenta Woriwori Sepeurikang Mudusella gureumi heorikein dambyeorak seosaengwon goyangi badukineun Doldori ]

ada hal-hal yang dikatakan hanya fantasi 
yaitu hal-hal yang jauh dari kita
seperti halnya bintang
biasanya orang yang terlalu indah, mereka juga akan menghilang dengan mudah
dan kini kusadari dia benar-benar indah
dan betapa jauhnya dia dariku

Jika aku mengambil selangkah mendekat padamu, 
kau mengambil dua langkah menjauh

“Kau terus saja muncul dalam pikiranku, meskipun aku tidak melihatmu, sepertinya kau ada bersamaku, jadi apa yang harus aku lakukan?”









Minggu, 04 Maret 2018

Dear Hujan, Mianhe, Loading....30, Memories of dK

03.03.2018
04.03.2018
9.58 am


aku minta maaf
aku sungguh minta maaf ya kk
maaf yang banyak sekali
hingga aku merasa malu mengatakannya
maaf yang banyak sekali
sampai aku ingin menangiss karenanya

aku minta maaf karena aku tidak bisa membantu kk menabung
aku minta maaf karena tidak bisa meringankan beban keuangan yang harus kk tanggung

aku malu sekali MENYADARI bahwa aku, memiliki banyak sekali kekurangan

aku takut sekali, bila aku hanya akan menjadi beban buat kk nantinya

aku takut meminta lebih pada Allah
karena aku tau
karena aku takut
aku tak cukup baik untuk mendampingi kk


maaf... 


#aboutSeptaAdriantoduricity
#edisibaperabizzzz
#sensileveltinggi
#diatasnormal
#pagaralamcity

listening


Rabu, 28 Februari 2018

Puisi Judul : Guru

GURU
Karya : Halimatu Syifa


Guru kau segalanya bagiku
Dihariku dipenuhi dengan bimbinganmu
Hatiku kau penuhi dengan nasehatmu

Aku bagaikan go’a yang gelap gulita sunyi dan menyeramkan
Tapi ketika kau beri aku ilmu
Dengan cahaya yang menerangi go’a itu dan indah

Cahaya itu merubah go’a itu semula gelap menjadi terang
Semula sunyi menjadi ramai
Semula seram menjadi menyenangkan
Guru dengan bimbinganmu lah dan nasehatmu
Bisa merubah muridmu
Semula bodoh menjadi pintar

Guru tiada yang dapat mengalahkan cahayamu
Karena guru adalah nomor satu

Senin, 19 Februari 2018

Banyak Harta Tapi Kikir = Rawan Jadi Ahli Neraka, Takut Miskin Dalam Pandangan Islam, Istidraj, Dikit Dikit Inget Mati bukan Kamu ya, Tinggalkan Lah Debat Karena Sangat Sedikit Manfaatnya







ISTIDRAJ "TIDAK/ JARANG SHALAT, TIDAK / JARANG PUASA, TIDAK / JARANG SEDEKAH, SERING MAKSIAT NAMUN REZEKI MENGKILAT DAN MENGALIR DERAS, LANCAR TANPA HAMBATAN"






Istidraj Adalah Ketika seseorang diberi nikmat berupa rizki yang melimpah, kesenangan hidup, kesehatan yang terus menerus, panjang umur dan sebagainya. Namun dengan nikmat tersebut dia semakin jauh dengan Allah SWT.

Istidraj adalah nikmat yang diberikan Allah kepada seorang hamba agar membuatnya semakin jauh dari Allah. Nikmat dunia yang disegerakan namun adzabnya dikemudiankan.

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan” (QS Huud: 15-16).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang bersabda: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuannya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran (kemiskinan) menghantui kedua matanya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niatnya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)

Istidraj : Mereka adalah orang2 yang sangat takut miskin mereka takut hartanya akan habis jika disedekahkan.

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui,” (QS. Al-Baqarah : 268)”

Istidraj : Mereka berpikir dan memiliki pandangan sendiri tentang definisi miskin, padahal Miskin itu bukan aib, miskin itu bukan sesuatu yg tercela, miskin juga bukan kutukan Itu merupakan bagian dari sunnatullah. 

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah: 155)

sudah menjadi ketetapan Allah bahwa seorang mukmin yang beriman, seorang yang shaleh akan diuji keimanannya akan diuji keshalehannya, yaitu dengan sedikit rasa khawatir dan kekurangan harta.

karena Allah senang ketika seorang hamba sering berdo'a dan menangis meminta ampunan padaNya, karena Allah ingin sang hamba datang kembali padaNya dengan merendah. Ujian itu adalah salah satu bentuk perhatian Allah kepada hambaNya dan ujian itu diberikan sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan hambaNya.

Istidraj : Mereka juga sangat takut kehilangan pujian dari manusia padahal pujian manusia adalah seburuk-buruk pujian.
Dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa ada orang yang memuji temannya yang ada disamping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Celakalah engkau, kau telah menggorok leher saudaramu. Kau telah meggorok leher saudaramu!”.
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ada orang yang memuji saudaranya dengan sangat berlebihan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kalian telah mematahkan punggung saudara kalian (kalian telah membinasakannya).” [HR. Bukhari Muslim ).
Ibnu ‘Ajibah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu.

Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.”  (Lihat Iqozhul Himam Syarh Matn Al Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 159, Mawqi’ Al Qaroq, Asy Syamilah)

semoga  kita tidak termasuk orang-orang seperti itu, semoga Allah masih memberikan rahmat-Nya kepada kita, amin


Senin, 18 September 2017

MENAWAN HATI SUAMI = "Sambut Mesra Suami Saat Pulang Kerja"


Seharian bekerja di luar rumah membutuhkan energi luar biasa. Bukan hanya soal jalanan yang macet dan panas luar biasa, namun juga kondisi pekerjaan dan bisnis yang selalu memunculkan tantangan-tantangan baru. 

Setiap tantangan rentan membuat otak berkerut, kepala berdenyut dan tentu saja wajah cemberut. Karenanya saat pulang biasanya menjadi momentum yang dirindukan, bayangan anak istri menyambut hangat sudah menghilangkan separuh penat yang tercipta seharian.

Lantas bagaimanakah seorang istri cerdas memahami hal ini ? 
Lalu segera bersiap untuk membuat program penyambutan suami yang istimewa ? 
Di luar banyak godaan dan cobaan, jangan sampai menyambut suami dengan daster dan masker, plus bau trasi yang tentu sungguh akan mengecewakan dan mengacaukan isi hati suami hehehe

Mari mengambil inspirasi dari sebuah kisah islami yang menggugah. Syaikh Muhammad Utsman al-Khusyt dalam Al-Masyakil Az-Zaujiyah wa Hululuha menuliskan kisah tersebut.

Ini adalah kisah dari Rasullah kepada para sahabatnya. Rasulullah menceritakan tentang sosok istri seorang pencari kayu bakar yang menjadi ahli surga, karena perlakuannya terhadap suaminya. Ketika ditanyakan apa yang telah dia lakukan, wanita itu berkata :

Apabila suamiku pergi mencari kayu bakar aku merasakan betapa beratnya ia mencari nafkah.
Aku merasakan betapa ia haus di pegunungan. Untuk itulah setiap ia pulang, aku selalu menyediakan air dingin yang langsung diminumnya begitu ia pulang.
Aku menyusun dan mengatur rumah serapi mungkin.
Aku menyediakan makan untuknya.
Aku memakai pakaian terbaik yang aku miliki untuk menyambut kedatangannya.
Saat masuk rumah, aku menciumnya penuh kerinduan.
Aku serahkan jiwa ragaku untuknya.
Aku menyiapkan tempat jika ia ingin beristirahat dan aku selalu berada di dekatnya, sehingga setiap saat jika ia menginginkanku aku ada disampingnya.


Sahabat Muslimah yang selalu optimis, mungkin terasa berat jika kita membayangkan seluruhnya harus dipraktek-kan hari ini juga, atau satu paket sekaligus.

Jelas lebih berat, karenanya akan terasa ringan jika coba kita wujudkan satu persatu, bertahap, dan lama-lama akan menjadi kebiasaan.

Tentu tidak semudah yang kita bayangkan, terkadang ada anak-anak yang meradang untuk diperhatikan. Mari hayati semua sebagai bagian dari upaya memperoleh kemuliaan.


NEXT.......


Kamis, 31 Agustus 2017

ANDAI ANDAI JEME BESEMAH PAGARALAM "JAMBU MBAK KULAK"

VERSI 3 LI BEDA NARASINYE SAJE AME ALUR CERITENYE MASIH SAME


JAMBU MBAK KULAK


La lame dide te aning. Ade Peteri "Puteri" due berading, ngibal ncakagh batan pajohan, kebetulan lewat kebun nghumah raje tekinak nga jambu besak ade mbak kulak, takaran beghas jaman dikale se kulak 2,5 kilu beghas. Adinge Peteri la titik'an liugh saje nginak jambu la ipung li ka masak'e, Peteri ndare cakagh kemughu kandek njuluk jambu dek tetemu, ndak di naik'i bukan gawe betine, nak mintak tulung dek bebadah mintak tulung. Nah ade tekinak nga Tupai melelumpat dibatang niugh damping jambu, tejadilah dialog "negosiasi" antare Peteri nga Tupai.

PETERI :"Tupai, galak ngambekka jambu adingku", Peteri bekendak nga Tupai.
TUPAI :"mane die ?, kate Tupai. Sate tekinakTupai langsung melompat terus
ngunam nyengut jambu dek teghingat agi nga pesan Peteri, tambah
dipantau tambah ningalan saje, kelemak'an makan jambu. 

Peteri due berading bejalan ninggalka Tupai, dipejalanan betemu Sampit.

PETERI :"Sampit, galak nyampit Tupai, Tupai dindak mbalikka jambu adingku"
kate Peteri mintak tolong nga sampit.
SAMPIT :"ndak, kami kawan" kater Sampit luk adak. 

Peteri due berading ngulang bejalan agi, betemu nga puntung.

PETERI :"Puntung, galak menggal Sampit, Sampit dindak nyampit Tupai, Tupai
dindak mbalikka jambu adingku, kater Peteri nga Puntung.
PUNTUNG :"ndak kami kawan" kate Puntung, 

Peteri due berading neruska pejalanan betemu nga Api.

PETERI :"Api, galak nyilap Puntung, Puntung dindak mbagal Sampit, Sampit
dindak nyampit Tupai, Tupai dindak mbalikka jambu adingku.
API :"ndak, kami kawan" kate Api nimbali Peteri, 

Peteri nga ading terus bejalan, betemu nga Ayik.

PETERI :"ayik, galak nyiram Api, Api dindak nyilap Puntung, Puntung dindak
mbagal Sampit, Sampit dindak nyampit Tupai, Tupai dindak mbalikka
jambu adingku.
AYIK :"ndak, kami kawan" kate Ayek nga Peteri, 

terus bejalan agi betemu nga Gunung.

PETERI :"Gunung, galak ngempang Ayik, Ayik dindak nyiram Api, Api dindak
nyilap Puntung, Puntung dindak Menggal Sampit, Sampit dindak nyampit
Tupai, Tupai dindak mbalikka jambu adingku.
GUNUNG :"ndak, kami kawan", 

Peteri due barading terus agi bejalan betemu nga Kebau jalang betanduk panjang.

PETERI :"Kebau, galak nggempur Gunung, Gunung dindak ngempang Ayik, Ayik
dindak nyirami Api, Api dindak nyilap Puntung, Puntung dindak menggal
Sampit, Sampit dindak nyampit Tupai, Tupai dindak mbalikka jambu
adingku.
KEBAU :"ndak, kami kawan" kate Kebau semegi timbale, 

ngulang bejalan agi betemu nga tandak sandi bawak Kebau.

PETERI :"Tandan bawak, galak mungguk Kebau, Kebau dindak gempur Gunung,
Gunung dindak ngempang Ayik, Ayik dindak nyirami Api, Api dindak
nyilap Puntung, Putung dindak menggal Sampit, Sampit dindak nyampit
Tupai, Tupai dindak mbalika jambu adingku.
TANDAN :"ndak, kami kawan", 

bejalan agi betemu nga Tikus.

PETERI :"Tikus, galak mererek Tandan bawak, Tandang dindak mungguk Kebau,
Kebau dindak gempur Gunung, Gunung dindak ngempang Ayik, Ayik
dindak nyiram Api, Api dindak nyilap Puntung, Puntung dindak menggal
Sampit, Sampit dindak nyampit Tupai, Tupai dindak mbalikka jambu
adingku.

Dengan tanpa perasaan putus asa dan bgerkecil hati, mereka meneruskan perjalanan dengan harapan ada yang bisa memberikan bantuan kepada adiknya yang terus merengek minta diambilkan jambu mbak kulak. Dan betemula nga Kucing Kurap, badan kughus keghing la lame dek makan.

PETERI :"Kucing, galak makan Tikus, Tikus dindak merereh Tandang, Tandang
dindak mungguk Kebau, Kebau dindak gempur Gunung, Gunung dindak
ngempang Ayik, Ayik dindak nyiram Api, Api dindak nyilap Puntung,
Puntung dindak menggal Smpit, Sampit dindak nyampit Tupai, Tupai
dindak mbalikka jambu adingku.

KUCING njawab :"Tikusss !!!", kate Kucing sambil mate tebelit, mane aku la lame dek
makan Tikus.

TIKUS :"aku dindak dimakan Kucing, aku galak merereh Tandan" kate Tikus.
TANDAN :"aku dindak dimakan Tikus, aku galak mungguk Kebau". kate Tandan
KEBAU :"aku dindak dipungguk li Tandan, aku galak gempur Gunung"
GUNUNG :"aku dindak digempur Kebau, aku galak ngempang Ayik"
AYIK :"aku dindak diempang Gunung, aku galak nyirami Api"
API :"aku dindak disiram Ayik, aku galak nyilap Puntung"
PUNTUNG :"aku dindak disilap Api, aku galak menggal Sampit"
SAMPIT :"aku dindak dipenggal Puntung, aku galak nyampit Tupai"
TUPAI :"aku dindak disampit li Sampit, aku galak mbalikka jambu ading Peteri.

Sate dikinak'i jambu mbak kulak tadi tinggal sejungut sise Tupai.

Tuape makne dibalik andai andai jambu mbak kulak, itula kondisi Republik saat ini, jambu bak kulak diibaratka dana APBN, APBD atau Proyek yang begitu tekinak li Tupai lupe nga janji, la ngunam dek ninge agi, Peteri minta simbol sandi rakyat nde minta pertolongan, ternyate la bekait "kawan gale", ngguk la betemu ng Kucing Kurap, maaf kalu diumpamenka nga KPK tukang berantas korupsi yang buas aus nengagh ade Tikus, awak tu kebelian ndie mangke ditawaki.

Nah Tikus nian, nga Tikus Kantor bedasi gawehe semegi nggerogoti tuape ne pacak digerogoti, pacak'ane gi merusak tulah, itulah kondisi badah kite Pagaralam dibadah lain semegi saje, sate diusut korupsi harte kekayaan disita tigha sejungut karne melalui proses panjang. 




Minggu, 18 Juni 2017

ANDAI ANDAI JEME BESEMAH PAGAR ALAM "TIVI TEKE RIMUT"



CERITE SANDI TANAH BESEMAH

TIPI TEKE RIMUT
karya : RD Kedum


Pagiantu pasar Simpang Empat katah raminye. Jeme, mubel, mutor, bicak singgenye saincet. Maklumlah amu ndak riaye jeme sandi dusun, talang, kebun, ke pasar gale. Jeme bejualani singgenye lok ghuleh mainan saje. katah anjame. Tuape banyak untong, terutame tukang barot ngah ruti-ruti ndek isi gelok.

“Ayo ibong, mamak, barot alap! Murah! Cucuok ngah selire jeme kite!!! Tebal, alap, murahpule!” Kate jeme Padang bejualan di pingger jalan. Camughak barotetu. Ade ndek kuneng, abang, ijang, itam.

Maklum jeme kiteni, jarang ke pasar. Ke pasar sesekalitu, mburong. Singgenye tuape dijual jeme dibeli gale. Ape agi rege kawe dang naek pule. Prinsip’e umpung duit ade, kawe berege, kebile agi..melandekahnya. Beli sugus, mbeli ayek urson, makan misoh, kerupok, ngah es. Ew, dide ndak masok ke warung ige, pingger jalantulah. Bekecikes.

Nah, ceritenyeni Udin makitulah pule. Dieni mpai udem jual kawe. Dek diket, empat ton!! Maklum dang mutegh agung.

Dalam pikiran Udini, nak lebarani jeme pasti rami di ghumahe. Mangke lemak reramian ndak mbeli tipi. Anye nak masok ke tukoh tipitu, akuni perlu besepatu. Mangke Cinetu dide ujokan naekah rege sekendak’e. Kele kicekahnya akuni jeme sandi duson. Pikir Udin.

Dekade..mpok kukot lok bagong (itam, kasar, kapalan), petame ndek dibelinyeni sepatu. Dipilehlah sepatu itam mengkilat. Lah ngengikak saja dieni bejalan ngijekah sepatu mpai tu. Takut benagh kalu teghijak ngah jeme banyak. Kata ghapate dieni minggir li ndak ngelap sepatu alapetu, bebarot kecek segitan kain bininye, dilepate luk sapu tangan.

Sambel nyimpol peloh, akhire Udini sampai ke rare’an tukoh tip, radioh, tipi, ngah pita. Langsung diancap’e ngah anak buah di tokohtu.

“Tuape di cakagh Mak (mamak=mamang). Pecak’e ndak mburong kamuni Mang eh..lain nian amu jeme beduetni” Kate anak buah Cinetu ngujok. Ape agi nginak Udin kincah’e luk tairan, ngijekah sepatu.

Sambel nggihem, Udin ni cecingal dek langsung nimbal. Dagunyeni naek diket, mangke kin’an lok jeme agong.

“Hei! Akuni ndak cakagh tipi…mirek ndek alap, besak pule”
“Oii…au Mang, sini Mang…masok. Nah..ini ade ndek besak libagh, ndek ini adenge agi, nah ndek ini adenge agi..tekecek. Mirek’e macam-macam Mang..nah..ini pulitrun, ndek ini sap, ndek ini panasunek, il ji, ..tinggal pilih”
“He’eh…mirek ndek paleng alap, ndek paleng mpai, ndek mane?” Kate Udin lok jeme calak benagh. Padahal sijad uruf die dek tau mbacenye.

“Ini Mak…mpai datang tini kemaghi..” Kate anak buah cinetu nunjuk mirek sap, besak, libagh, datagh luk kace.
“Nah, kite idupkah kudai….”
Jreng..jreng…ljreng….idup.
“Cacam!! Kah besak’e” Udin tekanjat, tepundor. Ase kah ditegok tipi.
“Way…Way…way…kah besak pule tini…antahku dek jauh ngah dindeng gumah kami tini. Cacaaaaam….aseku pacak luk di biskop amu nunton di ghumah” Dalam hati Udin, mate tebelet.
“Nah..Mak…amu ndak segah nginak gambar’e, kamutu mbeli ndek besak nilah. Kinak’ilah nah jemenye..luk bukan gambar. Kamu tinggal dudok. Picet-picet sandi jauh..muncol gambare”
“Auuu….’”Kate Udinni luk kah tekatew. Dalam ati dieni bepikir”Antahku..melungok gale jeme seduson nginak tipi besak”
“Beghape deng rege tipi ndek ini..” kate Udin lah dek sabar. Ase ndak diangkute makinilah.
“Murah Mak, gi 29 juta..” Kate anak buah Cinetu semangat.
“Dek tahu kurang? Jadilah pule selawi juta” Kate Udin. Awak dalam hati empok 39 juta maseh kah dibelinye. Mangke pacak ngampok ngah jeme di dusonne.
“Oii jadi Mang, ambeklah..pelaresan. Murah tini Mak..…teke rimut” Kate anak buah cine tu.
“He’’? Tekerimut?” Udin pagean.
“Au Mang..tekerimut gale tipi kami ni”
“Ndek dide tekerimut ade?” Kate Udin agi.
“Oii..dide bediye. Tekerimut gale..tipi kite. Ndek itu jaman dulu Mak…”
“Aii…amu luk itu ude, aku urung mbelinye. Aku ndak cakagh ndek alap”
“Lah mang alap tini. Alap, besak, datagh…”
“Mane pule kapoh tekerimut”
“Adak auu Mak, teke rimut gale tipi makini…”
“Nah ape kateku. Dek kah dege benagh kapoh. Duetku abes, tipi tekerimut” Udin langsong keluagh sandi tukoh Chinetu sambel bengangam.
“Manciane aku bange..tingak..majoh taiiii…kapoh nak dijuali tipi tekerimut. Kusembeleh nian kele Chinetu. Dengkek ni. Kate Udin ngengincat ngijekah sepatu alap




Kamis, 18 Mei 2017

ANDAI ANDAI BESEMAH PAGARALAM "JAMBU MBAK KULAK"

VERSI 2
LI BEDA NARASINYE SAJE AME ALUR CERITENYE MASIH SAME NEK INI BANYAK BASE INDONESIA-EE


"JAMBU MBAK KULAK"



Suatu hari ada dua orang kakak beradik sedang berjalan di hutan. Tiba-tiba sang adik melihat sebuah jambu mbak kulak (sebesar gentong). Sang adik pun ingin jambu itu.

"Kak, ambilkah jambu itu," ucap adik pada kakak.
 Sang kakak bingung karena ia tidak bisa memanjat. Kemudian ia melihat tupai. 
Kakak berkata pada tupai, "Tupai, tolong aku. Tolong ambilkan jambu adikku."
Tupai berkata, "Oke. Di mane jambunye ?"

Mereka pun pergi ke pohon jambu.
"Oke, aku ambilkan," kata tupai.
Setelah tupai naik pohon, tupai malah memakan jambu itu sedikit-sedikit.
"Enaakkk," kata tupai.

Sang adik menangis, karena tupai sedang memakan jambu mbak kulaknya.
"Tupai, kembalikan jambu adikku," perintah kakak.
"Siniii. Ambil sendiri," ucap Tupai dengan sombong sambil makan jambu.

Sang kakak dan adik pun pergi. Kemudian bertemu dengan sumpit. 
Kakak berkata, "Oi sumpit, tolong aku. Tolong kami, sumpit tupai. Tupai nindak kembalikan jambu adikku."
"Ndak ai.. Kami kawan," jawab sumpit sambil berlalu.

Sang adik makin menangis. Kakak pun kebingungan. Kemudian mereka berjalan lagi dan bertemu Puntung (Kayu Bakar).

"Oi puntung, tolong aku. Tolong bagur (pukul) sumpit. Sumpit nindak nyumpit tupai. Tupai nindak balikkan jambu adikku," pinta kakak.
"Nindak ai. Kami kawan," jawab puntung dengan sombong.

Adik kian menangis. Kemudian mereka berjalan lagi dan bertemu dengan api. Tanpa putus asa sang kakak berusaha meminta bantuan.
"Oi api, tolong aku. Tolong bakar puntung. Puntung nindak bagur sumpit. Sumpit nindak nyumpit tupai. Tupai nindak balikkan jambu adikku."
"Nindak aiii.. Kami kawan," jawab api.

Adik dan kakak ini kian bingung. Mereka nyaris putus asa. Namun, di jalan mereka menemukan air sungai. Lalu, sang kakak berkata lagi hal yang sama pada sungai.
Oi ayek tulung aku. Tulung kamu padamkan api, api nindak bakar puntung, puntung nindak bagur sumpit, sumpit nindak nyumpit tupai, tupai nindak balikkah jambu adikku, ” kata kakak. ” Nggup ai. kami kawan, ” jawab ayek.

Kemudian adik kakak itu berjalan lagi dan bertemu gunung. ” Oi gunung tolong aku. Tolong kamu hempas ayek. Ayek nindak padamkah api. Api nindak bakar puntung. puntung nindak bagur sumpit nindak nyumpit tupai.Tupai nindak balikkah jambu adikku,”ujar kakak.”Enggup, kami kawan,”jawab gunung.

Kemudian, mereka berjalan lagi.lalu bertemu dengan seekor kerbau besar. sang kakak langsung berkata,”oi kerbau tolong aku. tolong kamu suntur gunung. Gunung nindak hempas ayek. ayek nindak padamkah api. Api nindak bakar puntung.puntung nindak bagur sumpit.sumpit nindak nyumpit tupai. Tupai nindak balikkah jambu adikku,”minta sang kakak, sementara sang adik masih menangis.”Enggup ai. Kami kawan,”jawab kerbau sambil makan rumput.

sang adik pun semakin jadi menangis. Kakak kebingungan. Kemudian mereka melihat tali sedang mengikat pohon. Kakak berkata,”oi taliii tulung aku. Tolong kamu kebat kerbau. Kerbau nindak nyuntur gunung. Gunung nindak ngempas ayek. Ayek nindak madamkah api. Api nindak bakar puntung. Puntung nindak bagur sumpit. Sumpit nindak nyumpit tupai. Tupai nindak balikkah jambu adingku,”minta kakak penuh harap.

Tali merasa iba melihat si adik dan tali juga benci dengan kerbau. Kemudian tali menjawab,”au, aku tolong. Dimane kerbaunye ?,” tanya tali. Sang kakak sangat senang dan bergegas menunjukan dimana kerbau. “Disane,”kata kakak sambil menunjuk kerbau.

“Kerbau sini kaba. Kuikat. Kaba nindak nyuntur gunung,”teriak tali sambil berlari ke arah kerbau dan segera mengikat kerbau.”Oiii au au. Ampun tali jangan kebat aku. Au aku suntur gunung. Dimane gunungnye ?,” tanya kerbau.Disane jawab sang kakak menunjuk gunung. Si kerbau langsung ngamuk, berlari menuju gunung. Gunuuung kusuntur kaba . Kaba nindak ngempas ayek,” teriak kerbau. Kerbau menyuntur gunung. kemudian gunung berkata ” ampun kerbau jangan suntur aku. au aku empas ayek. dimane ayeknye?,”  tanya gunung. Kemudian sang kakak menunjukkan dimana ayeknya. Gunung langsung merah dan bersiap menghempas ayek. ” Ayek. kuhempas kaba. Kaba nindak madamkah api,” teriak gunung.

Mengetahui gunung hendak menghempasnya, ayek ketakutan dan langsung menjawab dengan gugupau nung. Jangan hempas aku nung. Au aku padangkah api. Tolong jangan hempas aku. Dimane apinye,?” tanye ayek. Sang kakak menunjukkan dimana api. Terlihat api sedang santai sambil membakar sampah. ” Api. Kupadamkah kamu nindak bakar puntung,” teriak ayek sambil membuat pusaran bersiap memadamkan api.

Api langsung kaget mendengar suara ayek. Tidak biasanya ayek semarah ini dengan api. Api langsung lari dan ayek mengejar ayek hingga kedalam hutan. ” Tolong-tolong,” teriak api. ” Au aku bakar puntung. Anye tolong jangan padamkah aku, ” pinta api. ” Disane, ” jawab kakak. Api langsung menjalar kepuntung. ” Kubakar kau puntung maaf nian puntung aku nindak dipadamkah ayek, ” teriak api. Puntung kaget api mendekat dengannya dengan api yang terpanas. ” jadi arang kau puntung, kau nindak bagur sumpit, ” teriak api.

“Jangaaan. Au jangan pi, jangan bakar aku tolong. Au aku galak bagur sumpit. Anye jangan bakar aku, ” minta puntung dengan penuh harapan. Puntung pun bergegas mencari sumpit. Terlihat sumpit sedang asik menyumpit mie. Puntung mengejarnya, “sumpit. Disini kaba. Kubagur kaba. Kaba nindak nyumpit tupai,” teriak puntung.

Sumpit kaget melihat puntung, ” aaargh. Jangan bagur aku puntung. Au aku galak nyumpit tupai anye jangan bagur aku, ” minta sumpit sambil berdiri dimangkok. Sumpit pun langsung meencari tupai. Terlihat tupai sedang asik makan jambu si adik. ” Tupai. Kusumpit kaba. Amu nindak balekkah jambu adik tu,” teriak sumpit dengan cuek. 
Tupai menjawab “au nah. Ambillah jambunye,” kata tupai sambil memberikan jambu ke adik.

Akhirnya adik bisa makan jambu. namun ternyata ambunya tinggal sedikit.. padahal tadi jambunya mbak kulak. adik pun tetap memakan jambu itu.